![]() |
| Presiden Joko Widodo |
Presiden kita yang tercinta,
bapak Joko Widodo memang selalu membawa sensasi tersendiri. Bukan sensai yang
dibuat-buat, tetapi sensasi yang terjadi secara alami. Sama alaminya ketika
menggosok gigi, kemudian terasa sensasi segar dan wangi di mulut. Presiden yang
dikenal sangat sederhana ini merupakan sosok presiden idola bagi setiap
masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Saking jadi idola, tidak
sedikit pula yang berusaha untuk menjatuhkan nama baik sang Presiden. Bahkan nyinyir
tidak sedap itu tak jarang tercium dari oknum Dewan Perwakilan Rakyat RI
terhormat. Entah apa yang menjadi latar belakang dari setiap kritikan serta
cercaan yang diungkapkan mereka, namun Pak Jokowi sendiri tidak terlalu banyak
menggubris dan terus bekerja dengan tugas-tugasnya sebagai Presiden untuk
rakyatnya.
Kalau kita mau melotot sedikit
pada realita yang terjadi, sebenarnya yang dilakukan oleh para pembenci Pak
Jokowi sekedar angin belaka, kata-kata yang tidak berbobot, dan kurang paham
akan reaksi warganet. Seolah-olah tidak mau ambil pusing, mereka ini menyumbat
telinganya dalam-dalam, padahal warganet sudah beraksi spontan dengan
berkomentar, membuat meme, menyindir, bahkan tak jarang menjadi olok-olokan
warganet, Dewan terhormat tersebut tidak menggubris isu-isu miring kepada
mereka. Malah, semakin hari mereka ini semakin lancar berbicara ngawur di depan
kamera dengan memberikan berbagai macam tuduhan, komentar semrawut dan untuk
kapasitas seorang Dewan hal itu kurang berbobot untuk diungkapkan.
Selanjutnya, apabila ditelaah
lebih dalam lagi ternyata aksi-aksi penghujat pak Jokowi dari Kursi Dewan ini
minim prestasi. Lebih banyak berpendapat negatif ketimbang aksi positif. Bahkan
Dewan yang terhormat ini tak segan-segan ikutan turun ke jalan atau memberi
apreasi pada segala aktivitas oknum-oknum yang memang sengaja ingin
menjelek-jelekkan bapak Presiden. Yang menjadi suatu keheranan bagi warganet, meskipun
sudah tertular oleh virus koar-koar tidak jelas, sepertinya memang sudah kebal
pada setiap aksi protes masyarakat terhadap aktivis Legislatif ini. Lebih
kontras, pada aksi 212 yang katanya didasari sebagai aksi solidaritas, mereka
ini turut hadir pula. Lihat lebih dalam lagi, wajah-wajah aktivis yang
mengikuti aksi damai ini, ternyata memang orang-orang yang selama ini kurang
srek dengan berbagai aktivitas bapak Presiden. Sebut saja oknum ini Fadli Zon,
Fahri Hamzah, Ratna Sarumpaet, dan mirisnya ada pula musisi terkemuka yang
pamornya sudah terjun bebas yakni Achmad Dani. Orang-orang ini bisa kita
golongkan ke dalam anggota geng haters pak Presiden Jokowi.
Aksi kartu kuning tak kalah
heboh, muncul lagi wajah FZ dan FH yang ikutan angkat kartu merah dan kuning. Layaknya
seorang wasit, rombongan haters pak Jokowi ini berfoto dengan wajah semringah
di hadapan kamera. Seorang mahasiswa UI malah mendikte wakil rakyat Indonesia
dengan cara yang kurang sopan, kekanak-kanakan, tak ada rasa hormat pada
Presiden, pemimpin NKRI. Model tidak sopan begini malah dijadikan contoh dan
konsumsi publik, begitu fulgar tanpa sensor pikiran diterima oleh masyarakat
Indonesia. Pendidikan legislatif yang kurang intelektual terlalu gegabah untuk
dipamerkan, sama fulgarnya memamerkan alat kelamin di hadapan publik. Seharusnya
Dewan kehormatan kita ini merasa malu, namun yang terjadi malah sebaliknya.
Bapak-bapak hebat kita ini dalam tawa dan gembira memamerkan ke-edan-annya
sendiri. Ada apakah gerangan? Nyaris tiada wibawa sama sekali, tetapi bagi gengnya
mereka ini adalah dewa narsis.
Ah, apakah kita masyarakat Indonesia
hanya bisa berkomentar saja? Nasib anak bangsa terpuruk jika memiliki Dewan
terhormat yang hanya bisa nyinyir, minim prestasi, kritis tanpa solusi dan banyak
omdonya saja. Kita butuh Dewan Perwakilan Rakyat yang benar-benar bisa
merakyat, bukan koar-koar mengkritik kinerja pemerintah. Eh, malah lupa bahwa
mereka ini bagian dari pemerintah. Sama seperti menepuk air kena muka sendiri.
Mau menampar batu, tangan pula yang sakit. Kapan kita mendambakan Dewan
Perwakilan Rakyat yang pro-rakyat, santun, sopan, dan sinergi dengan sang
Presiden. Kalau ada manusia-manusia ini, percayalah, ibarat benalu di pohon
mangga, batang mangga sulit tumbuh buahnya. Daripada mengganggu, lebih baik
pangkas saja benalunya. Semoga Tuhan yang maha kuasa dapat memberikan para
dewan yang benar punya hati untuk bekerja, bukan cuma jadi lintah penghisap
anggaran saja. Go pak Presiden Jokowi, tetap semangat untuk kerja, kerja dan
kerja membangun Indonesia. Karena memang benar, aksi nyata lebih berarti
daripada banyak omong belaka. Merdeka!




Kita Indonesia, kita merdeka!
BalasHapus