![]() |
| Konflik SARA melahirkan kekacauan dan kehancuran |
Dalam masa pilkada ini, konflik SARA
disinyalir akan dijadikan senjata penghancur oleh pihak-pihak yang tidak
bertanggung jawab. Segala macam isu yang menyinggung suku, agama, ras dan
budaya akan dilancarkan dengan tujuan mengganggu keamanan dan ketertiban
masyarakat. Apalagi di Kalimantan Barat khususnya, akan diadakan pilkada
serentak di beberapa tempat baik tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan hingga
desa. Aparat dikerahkan lebih banyak demi menjaga stabilitas proses berjalannya
pilkada. Kalimantan Barat sendiri menjadi wilayah red alert atau siaga pilkada
dari beberapa daerah di Indonesia. Hal ini dikarenakan Kalimantan Barat begitu
rawan terjadinya ketersinggungan sosial.
Beberapa hal yang dapat dilakukan
untuk menjaga agar masyarakat tidak termakan isu SARA. Pertama berserah kepada
Tuhan yang maha Esa, mengendalikan emosi, tidak memanggil orang lain dengan
julukan berbau SARA, tidak menghakimi dan berpikir negatif tentang suku, agama,
ras dan golongan yang berbeda, tidak memaksakan kehendak kepada orang lain,
menghormati dan mengasihi orang lain, dan berusaha memikirkan hal positif bersama-sama.
Dengan demikian, hal-hal tersebut menjadi relevan apabila mengambil filosofi masyarakat
adat Dayak yang menjunjung nilai-nilai adatnya melalui semboyan “Adil ka Talino,
Bacuramin ka Saruga, basengat ka Jubata”.
Hendaknya kita selalu berdoa
kepada Tuhan Yang Maha Esa serta melakukan kebaikan yang diwasiatkan kepada
manusia oleh Sang Pencipta. Hal ini tidak terlepas pada hubungan transenden dan
imanen kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai ciptaan yang baik adanya, Tuhan
telah mewariskan kebenaran dan kebaikan kepada setiap manusia. Manusia diberikan
akal dan budi untuk menelaah serta membedakan mana-mana saja hal yang dianggap
kurang baik dan mana-mana saja hal yang dianggap baik dan benar. Berdasarkan Pancasila,
rakyat Indonesia menjunjung nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, di mana sebagai
manusia yang ber-Tuhan, kita menunjukkan wajah Tuhan itu dengan karya nyata,
pewartaan akan kebaikan dan kasih Tuhan. Akan menjadi ambigu, apabila sebagia
masyarakat yang beragama dan bertakwa kepada Tuhan, kita menjadi pelaku
anarkisme, diskriminasi, ketidakadilan dan keegoisan yang semerta-merta mencoreng
wajah Tuhan sendiri oleh tingkah kita yang bangga pada segala kesalahan dan
dosa. Sebaliknya, bersegera untuk bertobat menuju jalan Tuhan dengan mengubah
hal-hal yang buruk menjadi perbuatan yang baik untuk sesama manusia tanpa
memandang latar belakang, suku, agama dan rasnya. Dengan demikian, kita menjadi
wajah Allah bagi sesama untuk menebarkan kebaikan-Nya yang besar.
Sebagai anggota masyarakat, kita
harus mampu mengendalikan emosi. Ketika isu-isu SARA terangkat di permukaan,
menjaga diri, menjaga hati untuk bersabar adalah perkara yang tidak mudah. Memang,
meskipun hal tersebut tidak mudah untuk dijalankan, namun dengan senantiasa berusaha
untuk berpikir positif semua itu tidak mustahil dilakukan. Alangkah lebih
bijak, tidak menjadi penyulut dan juga tidak tersulut oleh isu-isu yang ada. Kita
juga berusaha untuk tidak saling curiga demi menghindari berbagai macam konflik
yang akan meletus ketika dibumbui oleh provokasi-provokasi yang terkadang asal
usulnya tidak jelas dari mana. Selain itu, kita juga perlu menghindari informasi-informasi
hoax atau kabar yang tidak benar untuk menghindari kesalahpahaman. Masyarakat perlu
menggali lebih dalam setiap informasi yang ada agar tidak terjadi penyesalan
pada akhirnya. Melihat realita yang ada, terkadang masyarakat mudah termakan
emosi ketika mendengar informasi yang tidak jelas. Apalagi jika itu disinggungkan
dengan pertikaian antar etnis, masyarakat tidak boleh percaya begitu saja,
harus melalui kordinasi dan pertemuan bersama minimal pemuka adat, pemuka agama
harus menjadi penengah bukan menjadi sosok yang membuat suasana menjadi lebih panas.
Peran seorang pemimpin yang bijaksana sangat mempengaruhi pengendalian emosi
masyarakat secara massal.
Kebiasaan untuk memanggil
seseorang dengan julukan berbau SARA harus segera dihentikan. Mungkin maksud
hati kita adalah guyonan atau gurauan kepada teman kita atau hanya sekedar
candaan belaka. Tetapi akan menjadi berbeda ketika orang lain yang tidak
memahami latar belakang candaan ini dianggap sebagai sentimen suku, agama, ras
atau golongan. Panggillah seseorang secara wajar, entah menggunakan nama
aslinya, nama depan atau nama belakangnya. Banyak orang menyalahartikan
etnisitas sebagai pembenaran diri. Tanpa basa-basi dalam forum terbuka
mengatakan misalkan “Saya Dayak”, “Kau Dayak”, “Elu Cina” dan lain sebagainya;
ini adalah bentuk rasa bangga pada etnisitas. Namun jika dipakai untuk memprovokasi,
maknanya jauh berbeda dari sekedar rasa bangga.
Rasa curiga yang besar serta pikiran
negatif terhadap suku, agama, ras dan golongan tertentu berpotensi besar melahirkan
konflik SARA. Melihat berbagai media pemberitaan, cenderung orang merasa geram
ketika melihat ormas-ormas radikal bergerak semaunya, menindas masyarakat yang
tidak bersalah dan semena-mena. Tidak sedikit orang tergerak secara massa
hendak melakukan perlawanan terhadap gerakan-gerakan ini, sehingga melahirkan
gerakan masyarakat yang tidak kalah radikal dan berpotensi mengalami konflik. Aksi
massa yang radikal vs radikal bukan solusi yang baik untuk melawan intoleransi.
Peran pemimpin kepala daerah dalam meredam situasi yang memanas berpengaruh
besar dalam menjaga situasi. Jika kita telaah konflik agama yang terjadi di
Yogyakarta beberapa waktu lalu, ternyata dapat diredam dengan diadakannya
dialog. Namun yang menjadi permasalahan awal adalah campur tangan ormas radikal
yang menghalangi kegiatan kemanusiaan menjadi tanda tanya besar bagi banyak
kalangan. Terjadinya pembiaran dari kepala daerah Yogyakarta dianggap berat
sebelah dan diperkuat dengan pernyataan beliau yang mengatakan bahwa aksi bakti
sosial tidak usah bawa nama agama. Sementara selama ini, kegiatan serupa sudah
pernah berjalan namun di masa sekarang banyak sekali larangan serta penghalangan.
Akibatnya, aksi baksos yang diadakan oleh Gereja Katolik tersebut dianggap kristenisasi.
Rasa curiga yang besar ini telah berhasil membatalkan aksi kemanusiaan untuk sesama.
Selanjutnya adalah sikap
masyarakat yang tidak mudah untuk memaksakan kehendak kepada orang lain. Pemaksaan
yang dimaksud di sini, khususnya berkaitan dengan agama. Ada orang yang
berpikir bahwa ia memeluk agama yang terbaik. Hal tersebut memang benar adanya.
Jika ingin bersaksi tentang iman pada agama tertentu boleh-boleh saja. Namun
yang salah adalah jika seseorang memaksakan kehendak pada orang lain untuk
memeluk agamanya dengan menjelek-jelekkan agama lain. Jika orang lain mau
percaya, itu bagus. Namun bila tidak percaya pun juga tidak menjadi masalah.
Bersaksi bukan keberhasilan mengajak orang masuk agama tertentu tapi bersandar
pada Tuhan yang mampu mengubahkan hati. Selain itu, kita juga menceritakan
tentang kebenaran firman Tuhan baik dari Kitab Suci maupun pengalaman rohani.
Jangan pernah memaksakan kehendak pada orang lain, apalagi dengan melakukan
pengancaman, pengeboman, penyogokan, teror, kekerasan, dan lain-lain. Semua itu
hanya akan memperkeruh suasana. Tuhan tidak ingin umat Nya saling menghancurkan
sebab kejahatan dan pemaksaan itu juga pasti meremukkan hati Tuhan yang sangat
memperhatikan umat Nya.
Sebagai manusia yang baik, setiap
agama tentu mengajarkan tentang kasih dan perdamaian. Jangan menghina dan
menjauhi orang lain bila Anda tidak mau dihina dan dijauhi. Jangan
menyuruh-nyuruh orang lain jika Anda tidak ingin disuruh-suruh. Jangan memukul
orang kalau tidak mau dipukul. Jangan pamer dan menyombongkan kelebihan diri
jika Anda tidak suka orang yang suka pamer. Seorang pelukis yang lukisannya
diinjak-injak akan sedih karena hasil karyanya diremehkan, padahal ia telah
berjuang keras untuk membuat karya terbaik. Jangan memperlakukan orang lain
secara kasar karena itu bukan hanya menyakiti hati sesamamu, melainkan juga
hati Tuhan yang telah menciptakan manusia. Hormati dan kasihi orang lain
seperti menghormati dan mengasihi diri sendiri dan juga Sang Pencipta kita.
Maafkan dan ampuni orang yang bersalah pada kita walaupun mereka tidak minta
maaf. Ini memang sulit. Tetapi tetaplah beriman bahwa bersama Tuhan, tidak ada
yang tak mungkin asal hati kita benar-benar mau tulus mengasihi sesama dan
menyenangkan hati Nya. Tiap ada kemauan untuk damai, salalu ada jalan.
Satu hal penting yang wajib
diingat oleh setiap warga Indonesia adalah: keanekaragaman suku, agama, ras,
dan golongan itu memperlengkapi kesatuan Indonesia. Bayangkan jika tubuh hanya
terdiri dari mata saja, tubuh tidak dapat melakukan aktivitas lain selain
melihat. Demikian pula dengan bangsa ini. Jika hanya terdiri dari satu suku
saja, maka terasa kurang lengkap dan miskin budaya. SARA seharusnya semakin
memperkaya budaya negeri kita tercinta dan jangan sampai memecahkan persatuan yang
telah terbina selama ini. Berpikirlah positif terhadap suku, agama, ras ,dan
golongan lain. Mari kita lakukan hal-hal positif seperti ramah tamah dengan
banyak orang, diskusi kenegaraan, bakti sosial, dan gotong royong bersama-sama
dengan orang-orang dari suku, agama, ras, dan golongan yang sama maupun
berbeda. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat memupuk semangat nasionalisme, rasa
kekeluargaan, dan kebersamaan antar masyarakat Indonesia.
Pada akhirnya, hal-hal tersebut
di atas dapat menjadi inspirasi bagi setiap orang untuk menciptakan kedamaian
dan keadilan di tengah masyarakat khususnya Kalimantan Barat. Hendaknya, kita belajar
dari filsafat orang Dayak sendiri, “Adil Ka Talino”; kita diajak untuk berlaku
adil kepada sesama manusia tanpa memandang suku, ras, agama ataupun golongan.
Selanjutnya, “Bacuramin ka Saruga”; hendaknya kita bercermin kepada surga yang
menjadi tempat idaman setiap orang. Menciptakan surga di dunia adalah dengan
melahirkan perdamaian, saling merangkul satu dengan yang lain, menciptakan
keutuhan dalam masyarakat, ciptaan dan alam sekitar. Dengan menjadikan diri
kita sebagai duta perdamaian, maka kita dianggap mampu menciptakan surga bagi
sesama kita yang ada di dunia ini. Lalu pada akhirnya kita sampai pada hal yang
tertinggi “Basengat ka Jubata”; artinya bernafas kepada Sang Pencipta. Nafas
adalah pemberian dari yang Maha Kuasa. Hanya dengan bernafas semua orang dapat
hidup. Artinya hendaknya kita mengarahkan hidup kita pada Tuhan karena kita
berasal dari-Nya dan kelak akan kembali pada-Nya. Maka dari itu, dunia adalah
persinggahan sementara bagi kita, dan kita yang berasal dari Tuhan harus melakukan
hal-hal yang baik untuk menghadirkan Tuhan di tengah sesama kita, agar kita
layak dan pantas ketika kembali kepada sang Pencipta. Ini bukan hanya sekedar
semboyan, tetapi dasar hidup yang benar untuk menjadikan kita yang adalah
manusia sebagai manusia yang sebenarnya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar