![]() |
| Bus Transjakarta |
Ini adalah salah satu contoh bentuk toleransi yang semakin lama semakin memudar. Bayangkan saja, soal tempat duduk saja perlu mempermasalahkan soal agama dahulu. Apalagi jika membahas kerja sama antarpemeluk agama yang berbeda. Ternyata negeri kita semakin lama, semakin darurat toleransi. Warna-warni keberagaman tidak lagi berarti, orang-orang semakin terang-terangan menunjukkan sikap intoleransi. Tanpa rasa ragu, tanpa rasa malu, mengungkapkan diri sebagai yang ekslusif dan alergi pada orang lain yang berbeda keyakinan. Mau di bawa ke manakah bangsa kita apabila anak bangsa satu per satu mengalami kemunduran, malu bertenggang rasa, tidak ada lagi toleransi, menganggap diri benar sementara yang lain salah.
Belakangan lalu sempat terdengar kabar terjadi pembubaran paksa oleh ormas radikal terhadap salah satu gereja Katolik yang akan melaksanakan aksi Bakti Sosial di daerah Yogyakarta. Aksi kemanusiaan ini digelar oleh Gereja Katolik Sto. Paulus Pringgolayan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ormas yang mengatasnamakan Islam ini melakukan pembubaran secara paksa terhadap panitia penyelenggara. Pasalnya, masyarakat yang daerahnya akan dijadikan lokasi Bakti Sosial menolak kegiatan tersebut dengan alasan Kristenisasi. Sementara pemerintah daerah Yogyakarta membenarkan insiden ini dan menyalahkan pihak gereja untuk tidak membawa nama Gereja dalam kegiatan Bakti Sosial. Sementara Gereja Katolik Sto. Paulus Pringgolayan ini bukan gereja baru di sana. Aksi Bakti Sosial ini bukan kali pertama dilakukan dan sebelumnya aman serta lancar. Tidak ada rasa saling curiga sampai muncul ormas yang mengatasnamakan Islam membubarkan paksa niat baik mereka ini. Jika alasannya adalah Kristenisasi, apakah semudah membalikkan telapak tangan orang bisa berubah keyakinan hanya melalui kegiatan kemanusiaan yang terbilang cukup singkat itu? Ironisnya, Sri Sultan Hamengkubuwono X sendiri tidak mengetahui bahwa wilayah pemerintahannya masuk ke dalam daerah intoleransi Nasional. Ini menjadi citra buruk bagi kota Yogyakarta sebagai kota pelajar yang notabene disantroni oleh berbagai pendatang dari etnis dan budaya yang beraneka ragam.
Dalam sebuah perjumpaan, saya bertemu dengan sesama anggota Fransiskan awam membahas mengenai intoleransi di Yogyakarta. Dalam persaudaraan Fransiskan, kami menyebut anggota persaudaraan sebagai saudara/saudari entah ia masih muda ataupun sudah tua. Seorang saudari kami yang berasal kelahiran Yogyakarta ini mengatakan bahwa di masa silam, Yogyakarta tidak seperti ini modelnya. Berbeda jauh dengan kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang merangkul berbagai suku, etnis dan budaya, segala kegiatan keagamaan dari agama manapun berjalan dengan baik dan aman. Namun saat ini, yang terjadi adalah kebalikannya, tidak ada rasa aman sama sekali ditawarkan oleh pemerintah daerah Yogyakarta. Malahan, ormas radikal semakin lestari di tanah Yogyakarta dan kerap kali terjadi diskriminasi di kalangan masyarakat umat Kristiani.
Sebuah keheranan bagi saya sendiri, sebagai mayoritas sebenarnya kami umat minoritas memerlukan perlindungan. Namun yang terjadi malah muncul suatu gerakan masyarakat, front, ormas yang memiliki paham radikalisme, akhirnya minoritas semakin tersudut dan terjadilah aktivitas-aktivitas frontal yang menggerogoti tubuh antarpemeluk agama. Rasa antipati semakin merajalela, untuk berteman, berkawan harus berpikir-pikir, duduk dalam transportasi angkutan umum juga harus lihat-lihat orang, dan rasa saling curiga semakin meningkat dari hari ke hari. Sudah tidak ada ruang lagi untuk nasionalisme karena semakin banyak pihak yang mencoba memecahbelah negara Indonesia dengan paham radikalisme. Kapankah rasa ini akan berakhir? Ternyata benar kata Dilan, yang berat itu bukan rindu, tapi rasa saling percaya yang mulai hilang, kita takkan kuat. Semoga ruang toleransi masih ada dan masyarakat Indonesia dengan keanekaragamannya tetap menjunjung nilai persatuan demi keutuhan bangsa kita.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar