Full width home advertisement

Tulisan Seputar Dayak

Berita

Post Page Advertisement [Top]

Tim UGM berada di Agats, Asmat, Papua
Beberapa waktu lalu kita mendengar aksi tiup peluit dan mengangkat kartu ibarat seorang wasit sepakbola dilontarkan oleh salah satu insan mahasiswa dari Universitas Indonesia. Parahnya, ternyata oknum ini merupakan ketua dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang seharusnya menjadi perpanjangan tangan para mahasiswa untuk menyalurkan aspirasinya. Sebagai mahasiswa dan seorang aktivis organisasi, seharusnya ketua BEM tidak terlalu gegabah untuk menyalurkan aspirasinya. Hal yang dilakukan oleh Zaadit Taqwa (ZT), ketua BEM UI ini dinilai oleh presiden sebagai aksi yang wajar untuk seorang mahasiswa yang berjiwa idealis dan penuh semangat. Namun bagi beberapa kalangan serta pengamat sosial, hal yang dilakukan oleh ZT dapat dikatakan sebagai saluran aspirasi yang tidak pada situasi atau tempatnya. Presiden Jokowi kala itu diundang sebagai tamu kehormatan dalam Dies Natalis Universitas Indonesia ke-68 yang diadakan di Balairung, Depok, Jawa Barat. ZT kemudian meniupkan peluit sembari mengangkat tinggi-tinggi sebuah buku kuning di hadapan Presiden Jokowi. Gerakan cepat Paspampres membuat ZT harus diungsikan keluar dari gedung pertemuan tersebut karena dianggap membuat suasana gaduh. 

Dalam beberapa media massa dan sosial, beberapa kalangan sempat mengkritisi dan adapula yang memuji aksi spontan mahasiswa UI ini. Namun, aksi berani ini jelas mendapatkan tanggapan presiden Jokowi sendiri. Adapun hal-hal yang dianggap urgen oleh ZT dan kawan-kawan BEM UI antara lain. Masalah pertama adalah isu gizi buruk yang terjadi di Azmat, Papua. Kedua, BEM UI menyoroti langkah pemerintah yang mengusulkan Asisten Operasi Kapolri Irjen Mochamad Iriawan sebagai penjabat gubernur Jabar dan Kadiv Propam Polri Irjen Martuani Sormin sebagai penjabat Gubernur Sumut yang dianggap menciderai netralitas dalam tubuh Polri/TNI. Isu ketiga, protes BEM UI terhadap kebijakan baru mengenai draft peraturan baru organisasi mahasiswa (ormawa) yang dianggap mengancam kebebasan berorganisasi dan gerakan kritis mahasiswa. Syukurnya, Presiden Jokowi adalah pemimpin yang sangat sabar dan tidak tersinggung meskipun diberikan kartu kuning oleh ZT. 

Di sisi lain, pihak-pihak yang pro pada ZT juga tidak sedikit. Mulai dari Azzam Mujahid Izzulhaq yang menganggap ZT sebagai pejuang yang berani sehingga ia menawarkan beasiswa kuliah di Jerman atau Turki serta umrah kepada ZT. Tidak hanya itu, tawaran beasiswa juga diberikan oleh Mohammad Nasih kepada ZT, namun kesemuanya itu ditolaknya. Kemudian dukungan lainnya diberikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Fahri Hamzah yang melontarkan kartu merah saat memberikan sambutan sebagai presiden Keluarga Alumni Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KA-KAMMI). Fahri Hamzah menganggap bahwa era pemerintahan Joko Widodo sudah salah arah. Tak kalah narsisnya, Fadli Zon membuat sajak peluit kartu kuning yang menyatakan apresiasi aksi ZT yang telah berani memberikan kartu kuning  kepada Presiden Jokowi. 

Tidak lama, aksi kartu kuning ini ditanggapi oleh masyarakat Papua sendiri yang diwakili melalui akun twitter @Papua_satu. “Jika tenaga medis dijadikan alasan memberi kartu kuning pada Pak Presiden @jokowi maka kami mengundang dokter-dokter muda @univ_indonesia untuk praktek di pedalaman Papua, jangan hanya banyak bicara saja di Jakarta sana. Cc @PemprovPapua @KedokteranUI #KartuKuningJokowi,” demikian bunyi akun @Papua_Satu yang berlokasi langsung di Papua ini. 

Akun Twitter @Papua_satu


Tak hanya itu, aksi tiup peluit dan kartu kuning ZT ini mendapatkan tanggapan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Saat memberikan materi kuliah pengantar ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (5/2/2018), ia menyindir sikap ZT yang memberikan kartu kuning kepada Bapak Presiden Jokowi. “Kalau perekonomian Indonesia tumbuh 5 persen nanti Pak Jokowi ditanya ‘Pak Bapak janjinya lebih tinggi dari 5 persen’. Kalian kasih kartu kuning gak?” pertanyaan ini disambut gelak tawa mahasiswa. 

Alhasil, Presiden Joko Widodo ternyata sangat bijaksana sehingga memberikan suatu kebijakan untuk mengajak rekan-rekan BEM UI khususnya ZT untuk meninjau langsung kondisi serta medan di Asmat, Papua. Ironisnya, ZT bersama rekan-rekan BEM UI telah melakukan jumpa pers dan menjawab dengan ringan bahwa BEM UI akan segerea melakukan rencana untuk meninjau langsung Asmat melalui galangan dana yang akan dilakukan. Jika BEM UI menjawab dengan wacana, tidak demikian dengan Universitas Hasanuddin dan Universitas Gajah Mada yang telah lebih dahulu menyantroni pedalaman Asmat melalui tenaga dokter mudanya. UGM telah mengirimkan Disaster Response Unit (DERU) ke Agats, Asmat, Papua. Mereka telah membantu penanganan masalah gizi buruk. Tim UGM juga dibantu oleh pemkab setempat, Kemenkes dan TNI. Sementara Tim Unhas telah berkordinasi dengan pemerintah pusat khususnya Kementerian Sosial dengan membantu memberikan obat-obatan, makanan tambahan, nutrisi, dan peralatan yang dibutuhkan oleh masyarakat yang terkena dampak gizi buruk dan campak di Agats, Kabupaten Asmat.

Daripada sekedar nyinyir atau kritik terhadap pemerintah, mari kita contoh teman-teman Unhas dan UGM untuk aksi nyata membantu pemerintah dalam menyelesaikan masalah yang ada. Sebagai mahasiswa, idealis itu baik namun apabila tidak diimbangi dengan aksi nyata, maka status mahasiswa yang idealis hanya sekedar jago kandang belaka. Kita melihat segala sesuatu seharusnya lebih luas dari kacamata pribadi, seorang mahasiswa melihat segala sesuatu melalui wawasan luas dan nyata serta praktik kerja yang akan menjadi tonggak hidupnya kelak di masa mendatang. Dihimbau untuk BEM UI khususnya ZT untuk tidak mencari popularitas belaka. Jika mampu memberikan kritik, anda harus mampu juga memberikan solusi. Bantulah pemerintah dengan cara anda sebagai mahasiswa, tentunya bukan hanya omongan belaka melainkan dengan wujud nyata demi mewujudkan Indonesia yang lebih bermartabat. Salam perjuangan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib