![]() |
| Gubernur Anies Baswedan mengecek kembali pintu air |
Rasanya masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat DKI masih terngiang dengan sosok Gubernur yang dikenal tegas pada orang besar dan lemah lembut pada orang kecil. Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. atau yang lebih familiar disapa Ahok ini telah merebut hati banyak orang di Indonesia bahkan sampai keluar negeri. Sepak terjangnya dalam dunia politik tidak dapat dianggap remeh, ketegasannya yang luar biasa melahirkan berbagai kebijakan-kebijakan yang membuat oknum yang ingin bermain nakal harus berpikir dua sampai tiga kali. Namun di balik ketegasannya, ia begitu ramah pada masyarakat menengah ke bawah. Berbagai macam solusi demi solusi ia ciptakan untuk kenyamanan masyarakat di Jakarta. Ia juga berani merelokasi masyarakat kampung Pulo yang berdiam di bantaran Sungai Ciliwung yang rentan mengalami banjir ke tempat yang lebih baik di Rusunawa Jatinegara Barat. Untuk anak-anak, Ahok membangun Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) pertama di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, pada Oktober 2015. Bahkan, area prostitusi di Kalijodo mampu ia sulap menjadi taman Kota yang begitu indah dan bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat. Meskipun demikian, ia harus terjerat dalam kasus penistaan agama yang menurut hemat publik sangat tidak masuk akal dan sarat dengan jebakan politik busuk oleh oknum-oknum yang kurang menyukai kehadiran Ahok sebagai penghalangan niat busuk mereka. Sekalipun demikian, Ahok tetap menjalani masa hukumannya dengan lapang dada dan gentle. Berbeda jauh dengan tokoh yang selama ini berusaha keras untuk menjatuhkannya, bukan menghadapi kasusnya tetapi melarikan diri ke luar negeri. Dan jelas sekali, ini bukanlah sosok Ahok tetapi ‘you know who is he’.
Masih berkaitan dengan pilkada Gubernur DKI sebelumya, Ahok kembali bertarung untuk melanjutkan visi dan misinya untuk periode selanjutnya. Berbagai ajang debat, Ahok bersama Djarot terlihat begitu memukau dan harmonis. Namun dalam perjalannya, berbagai cara busuk dilancarkan oleh pihak lawan dengan menerjunkan pasukan-pasukan nasi bungkus dari kaum radikal. Gerakan dengan nomor togel 212 lahir sebagai aksi ‘damai’ untuk menyatukan visi dan misi atas nama umat Islam. Gerakan untuk tidak memilih pemimpin kafir berkumandang, kasus Almaidah 51 terangkat oleh seorang dosen yang mengedit video kunjungan Ahok di Pulau Pramuka beberapa waktu silam. Akibatnya, luapan emosi masyarakt Islam meledak, Buni Yani dengan editan videonya berhasil mengumpulkan orang-orang baik dari berbagai daerah untuk menjatuhkan Ahok siang dan malam. Tak sampai di situ saja, pejabat DPR RI Fadli Zon dan Fahri Hamzah, Rizieq Syihab sang Jenderal FPI yang kabur ke Arab karena kasus video sex-nya yang viral, Gubernur Zumi Zola yang saat ini terjerat kasus korupsi, Ratna Sarumpaet, Buni Yani sang master editor, bahkan musisi papan atas Achmad Dani ikut meramaikan aksi ‘Wiro Sableng’ ini. Akhirnya, sang pemimpin terjatuh dan saat itu tikus-tikus sawah mulai tertawa terbahak-bahak. Dengan gagah berani, Ahok memohon maaf kepada seluruh umat Islam di Indonesia atas perkataannya yang kurang berkenan. Sekalipun saya pribadi membenarkan, tak sedikit juga tokoh-tokoh yang menggunakan ayat-ayat suci untuk membohongi orang lain demi kepentingan pribadinya atau bahkan kelompoknya. Namun Tuhan tidak tinggal diam, satu per satu nama-nama di atas tiba-tiba terjerat berbagai kasus hukum sebagai hasil buah karma yang ditanam dan ranum subur untuk dituai oleh yang menanamnya. Ahok berlalu di dalam tahanan dalam ujian kesabarannya.
Sukses dalam kampanye politik berjamaah, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Next Gubernur-Wagubernur lahir dari partai Gerindra dan isu agama pilihan rakyat semesta alam. Anies memulai karya di atas meja ruang Gubernur dan duduk di atas meja kerjanya yang pertama di Balai Kota Jakarta. Hanya satu saja yang masih menjadi uneg-uneg bagi Anies pribadi, yaitu anggaran yang dijaga ketat oleh sistem pengamanan E-Budgeting yang dirancang oleh pemerintahan Ahok. Satu per satu rencana anggaran ditolak oleh sistem E-Budgeting, Anies terdiam cemberut geram pada Ahok. Sudah tak ada jalan, anggaran untuk kolam ikan jadi stand up comedy, lagi-lagi dicoret dalam daftar anggaran. Sampai 100 hari pemerintahan Sandi-Uno, mereka masih pusing karena berputar-putar pada anggaran. Belum lagi Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TUGPP) Anies-Sandi yang berjumlah 74 orang disumpal anggaran sebesar 28 Milyar rupiah. Ironisnya, Ahok semasa menjabat memiliki TUGPP hanya 6 orang dan itupun dibiayai dengan dana operasional Gubernur. Jadi nampak kontras sekali perbedaan antara cara kerja Ahok dibandingkan Anies. Silakan masyarakat nilai sendiri.
Ujian untuk Anies tidak cukup sampai di sini saja, tiba-tiba Jakarta digenang oleh banjir. Anies kemudian sigap bergerak menuju Pintu Air Manggarai. Entah apa yang dipikirkan, Anies mondar-mandiri memantau ketinggian air yang terus meningkat. Alhasil, papa razi yang menonton aksi sang Gubernur yang mondar-mandir mengambil kesempatan ini. Anies nampak sibuk memantau keadaan air sampai lupa memberikan status siaga kepada masyarakat. Sore hari sekitar pukul 16.00 status siaga baru diumumkan langsung oleh Gubernur sementara sejak siang air sudah mengalami peningkatan volume. Ketika ditanya apakah Gubernur Anies Baswedan akan melakukan normalisasi, ia menjawab “Kali akan dinaturalisasi”. Kata naturalisasi adalah wacana awal Anies sebelum terjadi banjir. Kata ini kembali terlontar saat terjadi musibah banjir baru-baru ini. Normalisasi adalah cara untuk mencegah volume air dengan mengeruk sungai kemudian menambahkan beton untuk mencegah aliran air keluar ketika volume air meningkat. Sementara naturalisasi ala Anies, sempat tidak dapat dijawab secara gamblang namun ia menyebutkan bahwa naturalisasi adalah langkah strategis untuk menjaga volume sungai dengan tetap mempertahankan ekosistem. Namun anehnya, naturalisasi ala Anies ini tetap menggeser perumahan warga, bukan penggusuran menurut hematnya. Sementara dahulu, Ahok juga melakukan penggeseran rumah warga jauh dari bantaran kali. Sangat mustahil melakukan penggeseran tanpa penggusuran atau relokasi, lantas bagaimana teknis naturalisasi ini masih belum dipahami secara mendalam oleh masyarakat.
Ada maksud dari Gubernur Anies Baswedan untuk mencoba tidak meniru program Ahok namun tidak dapat dipungkiri ternyata identik pula caranya. Istilah-istilah yang dipakai oleh Ahok seperti normalisasi tidak jauh berbeda dengan naturalisasi yang ditawarkan oleh Anies Baswedan. Kapan naturalisasi dilakukan, hal tersebut dijawab oleh Anies bahwa naturalisasi akan dilakukan setelah banjir surut. Beberapa pendapat netizen selaku warganet yang juga adalah Warga Negara Indonesia meminta Anies untuk tidak hanya menonton air yang mengalami naik dan turun tetapi juga memperhatikan warga yang mengungsi. Potret-potret masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir menjadi permasalahan sosial yang serius. Ketika masyarakat itu membutuhkan pemimpinnya untuk mendapatkan fasilitas kesehatan, sandang dan pangan di kala papan direndam banjir, Anies menonton air di tepi pintu air. Meskipun sempat ia mendatangi warga yang terkena banjir, dan potret sang Gubernur mencium tangan anak kecil juga sempat viral. Namun kebutuhan-kebutuhan masyarakat untuk memohon bantuan harus dipenuhi secara mandiri dengan turun ke jalan-jalan untuk meminta sumbangan dari masyarakat yang lewat. Hal tersebut tidak perlu terjadi, apabila memang Anies Baswedan sungguh-sungguh fokus pada banjir terutama pula pada kemanusiaan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar