![]() |
| Gereja St. Lidwina Bedog |
Hari ini Indonesia melelehkan air mata dan ibu pertiwi kembali berduka. Hal-hal yang selama ini dirasa cukup aman bagi enam pemeluk agama yang sah di Indonesia ternyata berbeda dari cerita yang ada. Di atas negeri pendidikan Yogyakarta, Gereja St. Lidwina Bedog Trihanggo Gamping Sleman jadi saksi berdarah oknum yang entah dijelaskan dari mana asalnya. Di pagi yang biasa, hari minggu di mana umat Katolik Gereja St. Lidwina melaksanakan misa di gereja mereka dipimpin oleh Pastor Karl Edmund Prier. Pelaku yang beringas masuk menuju Gereja sembari mengayunkan pedang. Namun naas, ketika berada di kanopi bagian belakang Bapak Martinus Parmadi harus terkena sabetan pedang sang penjagal yang melukai punggungnya. Selanjutnya sang penjagal dengan pedangnya menuju bagian koor dan menyerang Pastor Prier yang sedang memimpin misa. Akibatnya, Pastor Prier mengalami luka di bagian belakang kepala. Tidak sampai di situ saja, pelaku yang beringas ini kemudian melukai Bapak Budi Purnomo. Seolah tidak puas mengenai tubuh manusia hidup, patung Yesus beserta Bunda Maria ikut menjadi korban sabetan pedang sang penjagal yang ada di sekitar altar. Akhirnya Polsek Gamping dikerahkan, seorang polisi bernama Aiptu Munir mencoba melakukan negosiasi kepada pelaku, namun ternyata sang polisi ini juga menjadi korban dan melukai tangannya. Dengan terpaksa Aiptu Munir mengeluarkan tembakan ke arah pelaku dan sang penjagal roboh karena timah panas mengenai bagian perutnya. Saat ini pelaku telah diamankan oleh polisi dan dibawa ke RS UGM.
Tidak lama dari kejadian ini, telah terjadi insiden pembubaran paksa kegiatan baksos oleh oknum ormas yang membawa nama Islam di Yogyakarta. Kegiatan baksos ini diselenggarakan oleh Gereja Katolik St. Paulus Pringgolayan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta satu minggu sebelum insiden penyerangan gereja St. Lidwina. Ormas yang mengatasnamakan Islam tersebut adalah Front Jihad Islam (FJI). Ormas tersebut diinformasikan membubarkan paksa acara baksos pihak gereja yang digelar untuk memperingati catur windu (32 tahun) Gereja Katolik Sto. Paulus. Meskipun kegiatan baksos belum sempat berlangsung artinya pada siang hari akan digelar, namun aksi FJI ini dapat dikatakan sebagai tindakan pembubaran paksa. Menurut Kabid Humas Polda DIY AKBP Yulianto mengatakan bahwa masyarakat yang akan dijadikan tempat acara baksos tidak setuju, maka berdasarkan kesepakatan kegiatan baksos dibatalkan. Sementara, pihak panitia baksos juga mengatakan kegiatan baksos tersebut terpaksa dibatalkan karena sejumlah pihak serta ormas FJI tidak setuju. Dalam mediasi dikatakan oleh Ketua Laskar FJI bahwa mereka tidak menolak baksos, namun jangan melibatkan umat Islam karena hal ini sangat sensitif. Alasannya lainnya adalah demi keamanan masyarakat. Dengan kata lain, aksi kemanusiaan bakti sosial merupakan kegiatan yang dapat mengganggu keamanan masyarakat karena melibatkan umat Islam. Padahal selama ini selalu dilakukan kegiatan kemanusiaan oleh Gereja Katolik untuk membantu sesama tanpa tebang pilih. Apa mau dikata, masyarakat luas telah menilai dengan cukup baik bahwa apapun sebutannya yang namanya pembubaran paksa suatu kegiatan kemanusiaan atau persekusi adalah tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Gereja Katolik sendiri memiliki visi dan misi untuk meringankan beban orang lain tanpa melihat latar belakang suku, agama dan golongan. Jadi jika ada anggapan baksos merupakan saluran kristenisasi, pernyataan tersebut adalah omong kosong.
Yogyakarta dikenal dengan slogan “Jogya berhati nyaman” tidak lagi relevan dengan kenyataan yang terjadi. Kasus-kasus yang terjadi di antaranya, penutupan rumah-rumah ibadat, pelarangan aktivitas ibadat, penolakan camat Katolik, pembubaran bakti sosial, dan beberapa peristiwa persekusi lainnya. Yogyakarta disandingkan ke dalam wilayah yang tingkat toleransinya sangat rendah bersama wilayah lainnya yaitu DKI Jakarta, Banda Aceh, Bogor, Depok, Cilegon, Banjarmasin, Makasar, Padang dan Mataram. Menurut The Wahid Institude ditemukan fakta tindakan intoleransi yang terjadi di Yogyakarta mulai masif terjadi sejak tahun 2012. Pada tahun 2014, Yogyakarta dinobatkan sebagai daerah intoleransi ke dua setelah Jawa Barat. Indikasi Radikalisme sendiri menjadi pemicu terjadinya intoleransi yang ada di Yogyakarta. Aspek yang mendorong pergerakan radikalisme di Yogyakarta adalah orientasi politik, emosi keagamaan, dan kultural. Orientasi politik terjadi sebagai respon atas tekanan yang diterima oleh sekelompok orang selama masa orde baru. Dalam perkembangannya di era reformasi, memungkinkan kelompok ini untuk melakukan gerakan-gerekan secara terbuka melalui massa di ruang publik. Akibatnya emosi keagamaan menjadi tumbal yang tak dapat dihindari. Benturan-benturan sosial yang terjadi di Indonesia dalam hal sentimen keagamaan telah menjadi bukti nyata gerakan-gerakan ini. Aspek kultural melatarbelakangi suburnya gerakan-gerakan radikalisme. Sekularisme menjadi alasan utama yang dianggap menghancurkan nilai kultural dan agama. Maka, kelompok ini menggunakan radikalisme sebagai kontra dari sekularisme. Nilai-nilai yang dianggap menghancurkan nilai kultus atau agama menjadi musuh besar dari gerakan ini. Sementara untuk konteks Pancasila, radikalisme dipandang sebagai kontra dari Pancasila.
Agaknya radikalisme menjadi perbincangan panas belakangan ini. Masyarakat sedikit demiki sedikit dijejalkan dengan makanan-makanan pedas berbau intoleransi. Hal ini berdampak pada goncangan sosial yang semakin kontras semakin lama semakin jelas. Apalagi terjadi pembiaran oleh oknum pemerintah daerah yang seolah membela kaum radikalisme merambah wilayahnya. Jika dihubungkan kembali nilai kultus dan agama yang perlu dipertahankan dari paham sekularisme bahkan Pancasila, sikap pemerintah daerah dalam hal ini Sultan Yogyakarta justru memberikan indikasi ‘restu’ kepada ormas-ormas radikal yang ada di wilayahnya. Sementara kaum minoritas sendiri semakin didiskriminasikan, ditekan dan terancam eksistensinya. Sri Sultan Hamengkubuwono XI perlu berpikir lebih panjang dengan realita bahwa Yogyakarta adalah wilayah yang menjadi sorotan skala nasional baik segi pendidikan, budaya, pruralisme dan sosial. Ini jelas menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat bagi seorang pemimpin untuk menjaga wibawanya kepada masyarakat yang berasal dari agama, suku dan golongan yang beraneka ragam. Bersikaplah jujur dan adil, mampu mengayomi semua pihak, dan lestarikanlah Yogyakarta agar tetap berhati nyaman. Ini sorotan kami, sebagai pemuda Kalimantan Barat untuk saudara-saudari di Yogyakarta termasuk kaum pemimpinnya, yang hidup dalam keanekaragaman dan berusaha untuk mempertahankan pluralisme. Renungkanlah, kita semua mampu hidup rukun dan damai, asal kita mau menerima perbedaan itu sebagai kekayaan, bukan suatu musibah atau ancaman.
Dokumentasi Penangkapan Pelaku Penyerangan Gereja St. Lidwina:








Tidak ada komentar:
Posting Komentar